Kamis, 27 Juli 2017

Sesakti Apapun Arjuna,Tetap Ki Dalang Yang Berperan

                                                                              Bagian 2


Barang siapa kenal dirinya maka kenal ia Tuhannya,
Barang siapa kenal Tuhannya maka sesungguhnya, tiadalah dirinya.

,السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ , بــِـسْمِ اللهِ الرَّحْــمٰنِ الرَّحِــيْمِ 
,الحــمدلله ألصــلاة والســلام على رسـول الله
و على آله وصـحبـه اجـمعيـن 
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانِ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ , اَمَّا ب

Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam semesta, berfirman, 

وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ,فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ م أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ,مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا, اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ,وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Dan juga Karun, Fir'aun dan Haman. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. akan tetapi mereka Berlaku sombong di muka bumi, dan Tiadalah mereka orang-orang yang luput dari kehancuran itu.Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (QS. Al Ankabut Ayat : 39-43)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam, dengan ni’mat sehat yang telah di berikanNya, kita diberi kesempatan kembali dan berkomunikasi walaupun melalui  via media sosial, Sholawat beriringkan salam atas panutan kita baginda Rasulullah Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat-sahabatnya. Mudah-mudahan syafa’at beliau melimpah dan menghunjam kelubuk hati sanubari kita yang paling dalam dan dengan syafa’at tersebut agar kiranya kita selamat dari keterbelengguan hawa dan nafsu, sehingga kita mampu menyikapi keadaan yang gonjang ganjing ini. Yang mulia tuan-tuan guru Syekh, Kyai dan Alim Ulama' rahiimahkumullah, mohon, izin dan restunya untuk menjelaskan "Keimanan Kepada Allah SWT" guna di sampaikan ketengah-tengah publik, mengingkat kondisi saat ini, khususnya kepada umat Islam dan jika terdapat kekeliruan dalam penyampaian, mohon di luruskan.

Ucapan terima kasih kepada Ikhwan wal Akhwat yang berkenan membaca, memperhatikan dan memahami, artikel yang penulis unggah semoga Allah SWT, selalu melimpahkan rahmat dan karunia Nya. Aamiin. Penulis berharap untuk menanggapi artikel yang diungga kiranya kita menggunakan ilmu dalil (bukti) dari Al Qur‘an, ilmu madlul (yang di buktikan) dari Al Qur’an dan ayat muktamat (ayat yang terang artinya tidak memerlukan penafsiran) dan ayat muktasabihat (ayat yang perlu penjelasan) dari Al  Qur’an.


Ikhwan wal Akhwat sekalian yang di rahmati Allah, melihat sebuah status di atas tentu kita membayangkan cerita tentang dunia perwayangan. Beberapa abad yang lalu agama Islam di sebar luaskan melalui dakwah seni perwayangan yang di bimbing oleh para wali-wali Allah, Al Muqarrom “Wali Songo” khususnya di tanah Jawa, Al Muqarrom wali Allah, ”Hadratus Syeikh Kiyai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari”, kab. Jombang Jawa Timur dan wali Allah, Al Muqarrom “Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi”, kab. Langkat Sumatera Utara, banyak lagi para wali-wali Allah tersebar di pelosok tanah air Indonesia.InsyaAllah, dengan qaromah mereka berharap kita mendapatkan syafa’at "Rasulullah Muhammad SAW", di alam dunia ini, dengan syafa’at tersebut kita terlepas dari belenggu dari jeratan hawa dan nafsu sehinggah tersingkaplah tabir (hijab) tampak jelas "Mukasyafah" wujud kongret Ilaahi,supaya dapat di mengerti dan di fahami, penulis gunakan bahasa yang sederhana, Melihat banyaknya manusia sudah memperturutkan hawa dan nafsunya, untuk ini mari kita mengambil pelajaran dari beberapa penguasaa dzolim, Fir’aun, yang mana ia seorang sakti mandraguna dengan ilmu dan kekuatannya yang tinggi sehingga ia mengklem dirinya menjadi Tuhan, untuk itu Allah, tenggelamkan beserta bala tentaranya yang tangguh. Sejarah membuktikan betapa angkuhnya Namrud dengan bala tentaranya, sehingga rakyatnya jatuh miskin disebabkan kekuasaannya untuk menyembah berhala dan akhirnya dirinya mengklem menjadi Tuhan, dan Allah, hancurkan ia beserta bala tentaranya yang perkasa.

Akhwan wal Ikhwat sekalian yang di ramati Allah, mari kita mengambil hikmah dari kedua tokoh dzolim ini. Allah, mengabadikan mereka di dalam kitab suci Al Qur’an, dan Al Hadits menjadikan symbol manusia yang mengambil alih hak Allah. Sifat-sifat mengaku tuhan dan sifat-sifat berhala ada di dalam diri manusia, maka sefat-sifat itulah yang wajib di hilangkan maka para wali Allah, Al Muqarrom “Wali Songo” dengan ajaran Islam, mereka memberantas sifat kefasikan, sifat kemunafikan, sifat kemusyrikan dan sifat mengkufurkan ni’mat yang ada didalam diri manusia.

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. 
(QS. AL Anfaal ayat : 17)

Inilah sifat Ma’ani yang wajib bagi Allah SWT dan mustahil bagi manusia yakni, sifat Qudrat (Maha Kuasa) yang ada pada  manusia kenyataan, sama dengan lemah (azizun),sifat Iradat (berkeinginan) yang ada pada  manusia kenyataan, sama dengan benci (karihun),sifat Ilmun (mengetahui) yang ada pada  manusia kenyataan, sama dengan bodoh (jahilun),sifat Hayat (hidup) yang ada pada manusia  kenyataan, sama dengan mati (maitun ),sifat Sam’un (mendengar)  yang ada pada manusia kenyataan, sama dengan tuli (amyun), sifat Bashar (melihat) yang ada pada  manusia kenyataan, sama dengan buta (ngumyun ), sifat Kalam (berbicara) yang ada pada kenyataan, sama dengan bisu/gagu (bu’mun ). 

Manusia selalu menggunakan, sifat-sifat yang wajib bagi Allah SWT, sehingga ia mengklem merasa ia yang berkuasa, merasa ia yang berkeinginan, merasa ia mengetahui, merasa ia hidup ,merasa ia  mendengar, dan merasa ia bisa berbicara. Inilah hak-hak Allah, yang di ambil alih oleh hawa dan nafsu itulah dia sifat keakuan/ego (nafsu tercela yakni nafsu mazmumah). Bagaimana kita ingin membesarkan Allah SWT sementara yang berperan adalah sifat keakuan (ego). Bagaimana mungkin menegakan amal ma’ruf dan nahi mungkar di luar diri, sebelum menghancurkan terlebih dahulu tuhan-tuhan dan berhala-berhala selain Allah, yang ada di dalam diri. Mereka telah mengenakan selendang kebesaran Zat Ilaahi sehingga mereka binasa. Lihat bagaimana Allah SWT menghancurkan Fir’aun dan Namrud, dengan melalui tangan hambah-hambahNya yang sholeh, berjiwa suci dan berhati mulia yakni’ Nabi Musa as dan Nabi Ibrahim as. Hawa dan Nafsu itu adalah anugrah dan bahagian hidup kita yang dirahmati Allah, bukankah “Orang yang kuat itu kuat bergulat akan tetapi orang kuat itu orang yang menahan (mengendalikan hawa dan nafsunya)”, bukan harus dibunuh dan dimusnahkan hanya lagi kita di perintahkan untuk menahan (mengendalikan) dan merubah dari nafsu mazmumah (tercela) ke nafsu mahmudah (terpuji) 
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkanya sesat berdasarkan ilmu Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas pengelihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk  sesudah Allah membiarkannya sesat.Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “QS. Al Jaatsiyah Ayat : 23” 

Bila kita tinjau dan perhatikan bahwa ayat tersebut mengintruksikan kepada kita bahwa untuk lebih serius lagi mengkaji (mempelajari) diri, karena di dalam diri tersebut jelas sekali siapa sesungguhnya yang Haq. Maka dari itu “Man Arrofa Nafsahu Faqod Arrofa Robbahu “/Barang siapa kenal dirinya maka kenal ia Tuhannya. “Wa Man Aroffa Robbahu Faqod Fajasal Jasadi”/Barang siapa kenal Tuhannya maka sesungguhnya tiadalah dirinya. (maksud arti tiada dirinya adalah bukan seperti es yang mencair dan bukan seperti lilin yang meleleh atau seperti besi melebur yang dimasak diatas tungku, bukan), akan tetap menafikan/meniadakan keinsanan dan mengisbatkan/menetapkan Allah SWT di dalam dirinya.


وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? (QS.Adz Dzriyaaat Ayat : 21)
Jadi anggapan asumsi kebanyakan masyarakat bahwa, kajian Islam yang telah di bentangkan di atas adalah kajian dalam, yang tidak perlu di pelajarai, ini sangat tidak masuk aqal, padahal ini ilmu tauhid (aqidah) yang selalu mengesakan Allah, dalam gerak dan diam, kapan dan dimana saja berada dan ini pulalah yang termasuk Rukun Islam Pertama yakni “Syahadah” (pokok dari ajaran agama Islam). Mari kita buat permisalan mendekatkan pemahaman, sebuah tonggak besi yang besar dan panjang, di pacakkan kedalam dasar laut dari permukaan air, kalau kita katakan kajian ini sedalam ujung besi yang di pacakan maka apa yang terjadi umat Islam tidak ingin memasuki karena dalamnya dasar laut, sehingga umat Islam jadi jahil (bodoh), ini adalah provokasi yang tidak bertanggung jawab agar umat Islam jauh dari dan tidak dapat mengetahui ilmu-ilmu Allah SWT. 

Padahal islam tidaklah demikian, Ilmu Islam itu seperti lingkaran tidak ada pangkal dan tidak ada ujungnya sehingga saling berkaitan satu dengan yang lain, contoh kita berbicara tentang Rukun Islam yakni Syahadah maka akan terkait ke Sholat, Syaum, Zakat,Haji, terkait ke Rukun Iman, Rukun Iman terkait ke Rukun Ikhsan dan akhirnya terkait kembali ke Syahadah (Rukun Islam).Di situlah Tauhid Rububbiah dan Tauhid Ulu’iyah yang tidak pernah ada celahnya. Maka dikatakan “Al Islam, Ya’lu Wala Yu’la Alaihi”(Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihinya). Jadi wayang sebagai Arjuna yang sangat sakti tidak bisa diam dan gerak bahkan bicara sedikitpun tanpa ki Dalang yang punya kuasa,akhir dari permainan wayang kulit tersebut, semua kembali kedalam peti yang telah disediakan ki Dalang dan akan di keluarkan kembali dalam episode yang berbeda. Inilah dakwah yang disampaikan Al Muqarrom ‘Wali Sono".
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah:Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah SWT), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al Jum’ah Ayat : 8)

Demikianlah wejangan ini, ma’na di balik kalimat “Sesakti apapun Arjuna, tetap yang berperan Ki Dalang” Mohon ampun kpd Allah SWT, mohon ma’af, bila terdapat kesalahan dan sedikitpun tidak ada maksud tertentu, hanya semata-mata menyampaikan haq Allah SWT, agar kita dihadapan Al Haq, tidak saling tuding menuding satu diantara kita, atas ma’af yg dibrikan, penulis ucapkan terima kasih, semoga bermanfa’at, hanya kepunyaan Allah lah segala puji-pujian teragung. InsyaAllah, kita lanjutkan dengan pembahasan dengan tema "Banyaknya beramal namun hanya mendapatkan kesemuan tiada akhir", di karenakan saling terkait, kiranya  penulis berharap agar unggahan-unggahan status sebelumnya di fahami benar-benar supaya sebagai bahan acuan untuk melengkapi unggahan-unggahan status sekarang dan akan datang sehingga tidak kehilangan arah dan tujuan ,

إِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلا, وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم

Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim. Yaa .. Allah, hilangkanlah rasa ujub dalam diri kami sehingga kami tidak pernah terlepas dari tali Aqidah yang sangat kokoh,  Aamiin . . yaa Robbal 'Aalamiin, 
Billahi taufiq wal hidayah. 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 



Kata-Kata Arifbillah

"Jadikan kematian itu hanya pada badan 
kerana tempat tinggalmu ialah liang kubur 
dan penghuni kubur sentiasa menanti 
kedatanganmu setiap masa".  (Imam Al Ghazali)






Selasa, 25 Juli 2017

As Sholatu Mi'rajul Mu'minin (bagian 1)

                                                                                                                   Bagian 8



Barang siapa kenal dirinya maka kenal ia Tuhannya,
Barang siapa kenal Tuhannya maka sesungguhnya, tiadalah dirinya.

,السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ , بــِـسْمِ اللهِ الرَّحْــمٰنِ الرَّحِــيْمِ 
,الحــمدلله ألصــلاة والســلام على رسـول الله
و على آله وصـحبـه اجـمعيـن 
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانِ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ , اَمَّا ب

Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam semesta, berfirman,

سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ,إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan, Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari (dosa). (Qs.Ash Shafat Ayat 159 -160)

Alhamdulillah, segala puji  dan puja bagi Allah, Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dengan kasih dan sayang Nya, Dia mengampuni seluruh manusia walaupun kesalahan-kesalahan tersebut sebanyak buih di lautan, pasir di pantai dan bintang bertaburan di malam hari, Dengan kasih dan sayang Nya, Dia terima dengan keridhohan, bila hamba Nya mendekat kepada Nya satu jengkal, Dia akan mendekat kepadanya satu hasta, bila ia mendekat kepada Nya satu hasta. Dia akan mendekat kepadanya satu depa dan apabila ia datang kepada Nya berjalan kaki, maka Dia mendatanginya dengan segera. 

Sholawat beriringkan salam atas junjungan kita, baginda Rosulullah Muhammad SAW,keluarga dan para sahabat-sahabatnya. Mudah-mudahan syafa’at beliau melimpah dan menghunjam kelubuk hati sanubari kita yang paling dalam seraya dangan syafa’at tersebut kita selamat dari belenggu ketidak pastian. Yang mulia tuan-tuan guru Syekh, Kyai, dan Alim Ulama’ rahiimahkumullah, Mohon, izin dan restunya untuk membahas tentang Rukun Islam, kedua yakni,” Sholat” melihat kondisi kepada khususnya  umat Islam dan jika terdapat kekeliruan dalam penyampaian, mohon diluruskan. Tak lupa terima kasih kepada sahabat-sahabat Facebook yang sudah berkenan membaca, memperhatikan dan memahami dari awal unggahan artikel hingga saat ini, dan harapan penulis untuk menanggapi artikel yang diungga kiranya kita menggunakan Ilmu Dalil (bukti) dari Al Qur‘an, Ilmu Madlul (yang di buktikan) dari Al Qur’an dan Ayat Muktamat ( Ayat yang terang artinya tidak memerlukan penafsiran) dan Muktasabihat (Ayat yang perlu penjelasan) dari Al Qur’an. Semoga Allah SWT, selalu melimpahkan rahmat dan hidayah Nya, Aamiin, Kajian yang penulis unggah banyak sekali ilmu Islam bagi siapa-siapa yang ingin memperoleh ilmu agama besar ini, Ikhwan wal Akhwat sekalian yang dirahmati Allah,untuk melanjutkan  unggahan  artikel pekan lalu agar kiranya tidak terputus, penulis berusaha mencoba semaksimal mungkin menggunakan bahasa yang mudah difahami dan berharap pembaca unggahan artikel ini, untuk tidak terburu-buru, tergesa-gesa, santai dan dalam keadaan tenang dan dengan waktu luang sehingga karunia Allah SWT, berupa faham akan turun. 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan abdi Nya pada suatu malam  dari Al Masjidil Haram ke Al Masijidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sessungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al Isra' Ayat : 1).

Sebelum kita membahas peristiwa besar Isra’ wal Mi’raj, yang sangat kuat berkaitan dengan apa yang kita amalkan sehari-hari yakni sholat, mari kita meninjau kembali untuk balik kebelakang tentang pristiwa terpenting yakni, ketika Rasullullah dilantik menjadi Nabi tepatnya di sebuah tempat bernama “Gua Hira", apa sesungguhnya hubungan pelantikan Nabi di “Gua Hira" ini, mari kita fahami benar-benar, kata nafi (tiada) dan isbat (tetap), manfi (mentiadakan) dan musbat (menetapkan) karena yang kita jadikan momentum dua disisi Nya, Syari’at dan Hakekat (yang sudah di unggah secara transparan). Syari’at tanpa Hakekat itu tidak laku (bathilah), Hakekat tanpa Syariat juga tidak laku karena (‘atilah) di anggap hampa, jadi mesti dua Ilmu yang kita pegang, yang dijadikan momentum. 

Kata Iqra' pertama sekali turun wahyu Allah yang pertama, sepotong dari satu ayat. “Iqro’ bismi robbikallazii kholaq”satu ayat tapi sepotong ini yang pertama, "Iqra", (Baca) ! ini kata kerja yang bersifat perintah, printah baca! kebetulan baginda Rasul, tidak tahu tulis dan tidak tahu baca (terkenal itu beliau), karena dari kecil perhatikan, penderitaannya yang berantai, penderitaan yang bertali-tali yang tidak berkesudahan, dua bulan di kandungan Ibunya, wafatlah Ayahnya, umur sekian ibunya wafat, umur sekian lagi ibu asuhnya, Halimahtusa'diah wafat, umur sekian kakeknya wafat, sampai jadi kembala kambing, sampai ikut dengan keluarga pamannya (Abu Tholib) yang susah anak banyak, numpang tempat orang susah, wajib tahu diri, makan sedikit dibagi-bagi kadang beliau tidak kebagian, umur 12 tahun disitu beliau jumpa seorang pendeta "Bukhoiroh" membuat pernyataan demi Allah, wahai Abu Tholib, kulihat inilah cirri-ciri khas, Ahmad yang akan menjadi Rasul akhir zaman, yang Allah ceritakan di "Injil", wahai Abu Tholib peliharalah anak ini bagus-bagus, saya yakin betul ini orangnya,jika aku masih hidup kata "Bukhoiroh", nanti aku jadi baking tulang puggungnya, itu pernyataan "Bukhoiroh", sampai remajanya dia tidak tahu tulis dan baca, tapi dengan sikap mental yang dipimpin oleh Allah, sampai digelar Al Amin, di zajirah Arab, seorang pemuda yang jujur, kasta-kasta, suku-suku yang berperang-perangan pada waktu itu selalu sekali kalau mau berdamai beliau ini yang di angkat jadi hakim, untuk mendamaikan, mempersatukan orang-orang yang bertikai. 
Umur 25 tahun kawinlah dia dengan seorang janda kaya yang terkenal juga di Arab, singkat cerita, setelah 15 tahun perkawinannya jumlah umur 40 tahun, ia masuk ke "Gua Hira" untuk berkhalwat (bersunyi-sunyi,bersepi-sepi dan mengasingkan diri dari masyarakat ramai), beliau ingin berjumpa dengan Tuhannya, karena beliau sebelumnya sudah menerima kabar kalimah “ LAA ILAAHA ILLAALLAH” (Tidak ada Tuhan selain Allah),di "Gua Hira" dan beliau menerima perintah Iqra’, apa jawab Muhammad, beliau katakan "Maa ana Biqori’ (aku tidak bisa baca, apa yang mustiku baca)", kalaupun ada umpamanya tulisan didalam Gua tersebut, takkan juga terbaca, disamping memang beliau tak tahu membaca sekaligus Gua itu gelap tidak kan mungkin tampak bacaanya, maka beliau katakan "Maa ana Biqori’ (aku tidak bisa baca )”, di ulang oleh Jibril Iqra’ satu riwayat di bilang 3 kali, riwayat yang lain ada yang mengatakan 5 kali. Iqra’ (baca) apa yang dibaca Nabi, dikarenakan beliau tidak tahu nulis dan tidak tahu baca, setelah terbaca oleh Muhammad, yang di baca Muhammad apa ! inilah dia "Kalimatul Haq" (kalimat yang benar) “Ala Hiya Nahiya” (dengan nama Itu, Muhammad terasa hidup) Wa ALaiha Namuttu (dengan nama Itu, Muhammad terasa akan mati) Wa ALaiha Wabiha Nubangatsu InsyahAllau Minal Aaminin. Nabi Isya as pun di ciptakan oleh Allah lewat "Bikalimatihi"  (dengan kalimat Nya), maka di gelar Isya Al Masih itu adalah "Ruhullah". Jadi yang dibaca ini oleh Muhammad , "Kalimatul Haq" (kalimat yang benar) yakni, kalimah "Alif, Lam, Lam, Ha" (kalimah Lafzul Zalala). Ini bercahaya didalam diri kita, bersinar gemilang, terang benderang, letaknya di jantung, yang berdetak, dak,duk, . . dak,duk, . . dak,duk, dua jari di bawah susu kiri, namanya hati "Rohani". Dengan kembang kuncupnya sang jantung itu adalah yang kerja "Kalimatul Haqqi" dengan izin Allah. Kaliamat yang Haq dengan Dia kita hidup dengan Dia kita mati, saksikan silahkan kedalam batin masing-masing. 

Dan hatipun masih mau diprediksi, hati yang mana yang dimaksud, disini adalah hati "Rohani", yang di dalam jantung jasmani, bukan hati jasmani yang di dalam segumpal daging, Inilah "Kalimatul Haq" yang dibaca baginda Rasul, Jadi rasa remuk redam tulang belulang Rasullullah, sewaktu di rentapkan dadanya oleh Jibril as, dikala remuk redam di situ hilang rasa keingsanan, setelah dibaca baru di sambung oleh Jibril as “Bismi robbikallazii kholaq (dengan nama Tuhan yang menciptakan) siapa nama Tuhan ! ini dia yang dibaca Nabi, setelah nabi membaca di lanjutkan “Bismi robbikallazii kholaq” (dengan nama Tuhan engkau yang menciptakan) Nabi terus baca, Allah . .  Allah . . . Allah . . Jibril as terus menyambung ayat ”kholaqol insaana min ‘alaq”(yang menciptakan manusia dari segumpal darah) ”iqro’ wa robbukal akrom”(Bacalah dengan nama Tuhan engkau yang Mulia), Nabi terus baca Allah . .  Allah . .  Allah . . “allazii ‘allama bil qolam” (Yang mengajarkan manusia lewat perantaraan qolam), apa itu "qolam", ialah (gurisan) "allamal insaana maa lam ya’lam”(yang mengajarkan manusia dari tak tahu jadi tahu), tadinya Muhammad tidak tahu, jadi tahu “Allah”, apa itu ? yakni “Ismu Zat”, sekarang di “Bissmllah” ini sudah dipakai,  atau masih dibaca dalam hidup jawabannya, masih dibaca belum memakai, maklum kalau tidak ada faedah dan manfa’atnya. Seharusnya mesti di pakai sambil di baca, di benarkan dengan qolb(hati) tasditkun bi qolbi, baru Iqrarun bi lisani, di ikrarkan dengan lidah, Wafiqlun bi arkani di kerjakan dengan anggota tubuh. inilah sinar atau pancaran "Nur Zat Ilahi" yang ada di dalam diri, Allah Tanya kepada kita di surat ini.
وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ 

“Yang ada didiri kamu apa tidak pernah kamu perhatikan.”(QS.Ad dzariyaat Ayat : 21)

Itulah yang di ceritakan Rasullullah kepada istrinya (Khodijah) terasa remuk redam tulang belulangku di rentapkan oleh makhluk tersebut, karena belum tahu pada waktu itu siapa makhluk itu. Khodijah mendengar cerita itu merespon cerita abang sepupunya bernama "Waraqoh bin Aufal", kalau begitu wahai kekasihku inilah yang di ceritakan abang sepupuku, akan datang nanti seorang pemuda, ia akan bertemu dengan seorang makhluk dalam suatu Gua, makhluk itu bernama Jibril as, merekapun pergi menemui abang sepupunya, begitu di ceritakan oleh Muhammad, "Waroqoh bin Aufal" menyatakan Alhamdulillah berarti aku masih menemui utusan Allah yang terakhir, akan tetapi, sayang aku sudah jumpo, sekiranya aku masih kuat, nanti engkau di kala tabliq menyampaikan hak Allah, orang pertama musuh engkau, sanak keluarga (famili) mu sendiri, dan sekiranya aku masih kuat, orang pertama akulah menjadi tulang punggungmu menyampaikan haq Allah.
Dan Allah terus membimbing qalb (hati) Rasul, sehingga terpancarlah dari qalb (hati) nya, kedudukan "Sifat Tabliq" (menyampaikan), dari qalb (hati) nya terpancar "Sifat Iradat" (kehendak), terpancarlah dari  pemikirannya, kedudukan "Sifat Amanah" (percaya), dari  pemikirannya terpancar sifat "Ilmu" (tahu), terpancarlah dari perasaannya, kedudukan "Sifat Siddiq" (benar), dari perasaannya terpancar "Sifat Hayyat" (hidup). Dari peristiwa ini Rasulullah mengalami perubahan drastis pada fisiknya yang menggigil dan kedinginan yang teramat sangat setelah selesai "Khalwat di Gua Hira'" untuk berjumpa dengan Tuhannya, disinilah peran seorang istri sholeha "Khodijah" yang merawat Rasul hinggah enam bulan lamanya, berselimutan terus setelah itu Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ,قُمْ فَأَنْذِرْ,وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ,وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ,وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ,وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ,وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ,فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ,فَذَٰلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ,عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ

”Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah,lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. Apabila ditiup sangkakala. Maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit. Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.”(QS. Al Muddatstsir Ayat; 1-10).

Wajar jika seorang "Salik" yang menempuh jalan Tarekat, di anggap tidak waras (gila) dan sakit beberapa tahun lamanya yang dialami, "Rasul" saja kekasih Allah seperti itu, apalagi si "Salik", akan tetapi sesungguhnya dialah yang sehat dan sempurna. Perbuatan Rasul ini di ikuti dan diamalkan oleh, "Sahabat Rosul,Tabiin,Tabiin-Tabiin,Ulama’-Ulama’, Syekh atau Kyai kita dan sampai kepada para Salik" saat ini. Dan amalan "Khalwat" juga di amalkan oleh "Nabi Musa as" selama 40 malam, ketika ia ingin berjumpa "Tuhannya di bukit Thuursina, tempat terkenal di daerah ini adalah Jabal Musa.Adalah nama sebuah puncak gunung tertinggi, dari sederetan gugusan pegunungan yang ada di semenanjung Sinai, Mesir. "Peristiwa "Pelantikan Kenabian di Gua Hira’" ini berkaitan erat dengan perjanjian kita kepada sewaktu di "Alam Ruh" yang sudah "Bersyahadah" (menyaksikanNya)”alastu birobbikum, qooluu balaa syahidnaa,(Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”(QS.Al A’raaf Ayat; 172) dan berkaitan terus ke peristwa besar perjalanan Rasulullah Muhammad SAW (Isra’ wal Mi’raj), dan terus berkaitan tentang masalah "Khusuk" dalam sholat, Syaum, Zakat dan Hajji dan akhirnya sampailah pada ketentuan terakhir yakni di saat "Ruh" sampai di kerongkongan. (silakan kunjungi unggahan di artikel ini dengan tema “Pohon jelatang di tepi laut, gugur bunganya di makan ikan, Jika datang si Malaikat maut, ilmu apakah yang anda gunakan !”) Jadi sekian banyaknya ilmu yang di unggah. Kita pelaku di posisi  tingkat awam bersegeralah mencontoh kehidupan Rasulullah Muhammad SAW yakni, ”Bertarekat (Berkhalwat)" memproduksi jiwa "Ikhlas", "Berhakekat" memproduksi jiwa "Ridho", "Bermakrifat" memproduksi jiwa "Ikhsan" dan "Bersyari'at" memproduksi jiwa "Tawaqal" kepada Allah SWT.
Demikianlah wejangan ini, mohon ampun kepada Allah, mohon ma’af, bila terdapat kesalahan dan sedikitpun tidak ada maksud tertentu, hanya semata-mata menyampaikan haq Allah, agar kita dihadapan Al Haq, tidak saling tuding menuding satu di antara kita, atas ma’af  yg diberikan, penulis ucapkan tarima kasih, semoga bermanfa’at, hanya kepunyaan Allah lah segala puji-pujian teragung. InsyaAllah, kita lanjutkan artikel berikut, membahas masih tentang Rukun Islam kedua yakni “Sholat” di karenakan saling terkait, kiranya  penulis berharap agar unggahan-unggahan artikel sebelumnya dan sekarang difahami benar-benar, supaya sebagai bahan acuan untuk melengkapi unggahan-unggahan artikel akan datang sehingga tidak kehilangan arah dan tujuan ,

إِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلا, وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم

Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim.Yaa .. Allah, hilangkanlah rasa ujub dalam diri kami sehingga kami tidak pernah terlepas dari tali Aqidah yang sangat kokoh, Aamiin . . yaa Robbal Aalamiin, 
Billahi taufiq wal hidayah.   
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 


Kata-Kata Arifbillah

"Kebahagiaan terletak pada kemenangan 
memerangi hawa nafsu dan menahan 
kehendak yang berlebih-lebihan". (Imam Al Ghazali)
                  



Banyaknya Beramal Namun Hanya Mendapatkan Kesemuan Tiada Akhir

                                                                                                                    Bagian 3


Adalah Aku satu perbendaharaan yang tersembunyi, 
Maka inginlah Aku supaya di ketahui siapa Aku.
Maka Aku jadikanlah makhluq Ku, 
Maka dengan Allah mereka mengenal Aku

,السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ,بــِـسْمِ اللهِ الرَّحْــمٰنِ الرَّحِــيْمِ 
,الحــمدلله ألصــلاة والســلام على رسـول الله
و على آله وصـحبـه اجـمعيـن 
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانِ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ, اَمَّا ب

Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam semesta, berfirman,

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezki dari arah yang tidak di sangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya, Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang di kehendaki Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath Thalaaq Ayat : 3)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam, dengan ni’mat sehat yang telah di berikanNya, kita diberi kesempatan kembali dan berkomunikasi walaupun melalui  via media sosial, Sholawat beriringkan salam atas panutan kita baginda Rosulullah Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat-sahabatnya. Mudah-mudahan syafa’at beliau melimpah dan menghunjam kelubuk hati sanubari kita yang paling dalam dan dengan syafa’at tersebut agar kiranya kita selamat dari keterbelengguan hawa dan nafsu, sehingga kita mampu menyikapi keadaan yang gonjang ganjing ini. Yang mulia tuan-tuan guru Syekh, Kyai dan Alim Ulama' rahiimahkumullah, mohon, izin dan restunya untuk menjelaskan ilmu "Syari'at, Tarekat, Hakekat, Makrifat" guna di sampaikan ketengah-tengah publik, mengingkat kondisi saat ini, khususnya kepada umat Islam dan jika terdapat kekeliruan dalam penyampaian, mohon di luruskan.

Ucapan terima kasih kepada Ikhwan wal Akhwat yang berkenan membaca, memperhatikan dan memahami, artikel yang penulis unggah semoga Allah SWT, selalu melimpahkan rahmat dan karunia Nya. Aamiin. Penulis berharap untuk menanggapi artikel yang diungga kiranya kita menggunakan ilmu dalil (bukti) dari Al Qur‘an, ilmu madlul (yang di buktikan) dari Al Qur’an dan ayat muktamat (ayat yang terang artinya tidak memerlukan penafsiran) dan ayat muktasabihat (ayat yang perlu penjelasan) dari Al  Qur’an. Ikhwan wal Akhwat sekalian yang di rahmati Allah, penulis berusaha mengupayakan semaksimal mungkin menggunakan bahasa yang mudah di fahami dengan berharap kiranya permirsa untuk tidak terburu-buru, tergesa-tergesa dengan tidak membacanya sepenggal-sepenggal, santai dengan perasaan yang lembut dan sejuk sehingga karunia Allah, berupa hidayah akan turun InsyaAllah, dan artikel ini yang bertemakan "Banyaknya Beramal Namun Hanya Mendapatkan Kesemuan Tiada Akhir" adalah unggahan  yang akan berkaitan terus kepada artikel-artikel yang akan di unggah mendatang, sehinggah menjadi sebuah ilmu pengetahuan agama Islam untuk mewujudkan iman ke dalam amal di dunia sehingga sampailah akhirnya memperoleh kebahagian di akhirat selama-lamanya. Mari sejenak luangkan waktu untuk merenungkan ma'na dibalik kalimat "Banyaknya Beramal Namun Hanya Mendapatkan Kesemuan Tiada Akhir".

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Al Imran Ayat : 190)

Kehidupan kebanyakan orang  yang merasakan saat ini tidak seperti  apa yang mereka  bayangkan, rasa kekecewaan itu hadir silih berganti sehingga mereka berusaha semaksimal mungkin mencari solusi untuk mengamalkan suatu amalan, agar supaya semua masalah dapat  terselesaikan, tapi toh masih begitu juga tidak ada perubahan sedikit pun bahkan menemukan kesemuan tiada akhir (maksud disini hanya beberapa orang saja), MasyaAllah. Ikhwan wal Akhwat  sekalian yang dirahmati Allah, tentunya timbul pertanyaan ada apa dengan ini semua ! apakah Firman Allah, yang salah . . . tentu tidak, atau apakah orang tersebut yang kurang ilmu tentu tidak pula, bahkan ia seorang ilmuaan, hartawan, dermawan, sholat sunnah tidak tinggal apalagi yang wajib, syaumnya terkerjakan penuh, zakat setiap tahun di keluarkan dan menginfaqkan (shodaqoh) pada kaum dhu’afah, hajji berulang kali, namun faktanya . . . semua ini, bahkan dibiarkan oleh Allah, atas jalan yang belok, tidak faham lagi mana hak orang, itulah hak ia, lihatlah betapa hewan patuh dan tunduk atas perintah-perintah Allah SWT, 

walaupun harimau itu hampir mati kelaparan di tengah-tengah  padang rumput yang subur namun ia bertahan tidak makan rumput karena ia tahu rumput itu milik kerbau, sang kerbaupun demikian walaupun ia tergeletak kelaparan di sampingnya daging (bangkai rusa) sedikitpun ia tidak ada hasrat untuk memakan daging (bangkai) rusa tersebut karena ia tahu itu milik harimau, mereka patuh dan taat atas perintah Allah, tapi bagaimana dengan manusia yang Allah bekali mereka dengan akal fikiran, hak orang lain dipaksakan menjadi hak dia, sangking rakusnya aspal pun di jadikan kopi tubruk, pasir di makan bagaikan bubur, batu bata di jadikan roti bantal, timah panas dijadikan es campur, semen dijadikan dodol semuanya di telan. Bahkan manusia ingin memisahkan agama Islam dari kehidupan masyarakat yang dianggap tidak lagi relevan lagi, mari kita lihat, untuk mendekatkan pemahaman sebuah cerita kehidupan seekor harimau. 
Harimau adalah seekor binatang buas yang ganas di dalam sebuah hutan belantara, apa yang ia inginkan, akan tercapai, di lihatnya katak besar melompat-lompat, ia mengejar katak tersebut lalu tertangkap dan sebagai makanan yang empuk lagi lezat, dilihatnya ada yang merayap-rayap pelan-pelan dan di tangkapnya lalu dimakan ternyata ular yang besar lagi panjang, dan suatu saat si harimau ini melihat keatas melayang, hinggap disuatu cabang, secara pelan-pelan harimau itu menangkapnya dan memakannya ternyata burung elang yang berbadan besar, harimau senang berada di hutan ini, dan ia menyadari inilah habitat kehidupan yang sesungguhnya. Suatu ketika harimau ini di tangkap secara paksa dan di pindahkan kesebuah kota besar, apa yang terjadi, pertama kakinya melangkahkan ia amat senang dan bahagia dianggap ini kehidupan yang sempurna dari habitat sebelumnya tapi apa yang terjadi, begitu ia merasakan lapar dan melihat benda besar seperti katak berjalan di depannya ia kejar dan lalu menangkapnya, begitu digigitnya ternyata keras sekali, tenyata angkutan kota (angkot), perut terus melilit tak pandang bulu, dilihatnya benda besar seperti ular merayap dan melintas didepannya, ia kejar lalu menangkapnya dan merasakan gigitan yang sangat kerasnya kepalang tanggung, ternyata yang di gigitnya roda kereta api, rasa lapar dan dahaga terus menghantuinya di lihat ada yang melayang dan terbang melintas diatas kepalanya sebuah benda besar terbang di sangka burung elang, ia kejar dan ketika mendarat seketika itu pula ia tangkap dan berusaha menggitnya berulang-ulang kali ternyata pesawat terbang, keras, sama seperti yang tadi, ia kecewa dan pada akhirnya harimau itu lemas dan terkulai mati. nampaknya ini sebuah cerita sepele, akan tetapi mengandung ma’na tersendiri. Seekor harimau yang bernasib malang yang dipisahkan dari habitatnya adalah iktibar, bagaimana mungkin manusia di pisahkan dari Agama Islam itu artinya memisahkan ruh dari jasadnya, padahal Agama Islam dengan manusia adalah “Fitrah atas kejadian manusia itu sendiri”  kita tidak ingin hidup seperti cerita diatas.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِن أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” 
(QS. Ar Ruum Ayat : 30)

Demikianlah hawa dan nafsu (ego), yang selalu membawa kesengsaraan, ego adalah Pantang kerendahan (tinggi diri), pantang kekurangan (kaya diri), mau menang sendiri (gampang tersinggung), senang melihat orang susah, susah melihat orang senang dan mudah di adu domba. Ini sifat-sifat (cirri-ciri ego di dalam diri). Hawa adalah (suara-suara batin yang berkata-kata macam-macam, misal Ikhwan wal Akhwat membaca postingan ini, lantas batin anda terus bicara tak henti-hentinya, sampai kapan pun ini tidak akan terhenti, sementara nafsu adalah suatu sifat yang tercela yakni (nafsu Al Amarah dan nafsu al lauwamah)

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir” 
(QS. Al Ma’arij Ayat : 19)

Jadi untuk mengantisipasi  ini Islam menjawab dengan beberapa keterangan-keteranagn dan beberapa ilmu di antaranya adalah "Ilmu Syari'at" ilmu Syariat itu di dalam Islam adalah pengenalan jenis perintah, yang mengatur tentang peraturan-peraturan dan undang-undang Allah dan Rasul atau "Ilmu Fiqih" yang kita kenal saat ini, Dalam Syari’at, apabila sesorang mengerjakan sholat dan sudah ada wudhu’, telah menghadap ke Ka’bah, bertakbiratul  Ihkram, membaca surah Al Fateha, Rukuk dan Sujud dan sampai dengan Taslim , seseorang itu oleh "Syari’at" sudah di anggap sempurna. Tujuan utama "Syari'at" itu ialah membangun kehidupan manusia atas dasar amar ma’ruf dan nahi mungkar. Syariat membagi ma’ruf dalam 3 katagori yakni, 1 Fardu atau wajib, 2 Sunnat atau mustahab, 3 Mubah atau harus. Selanjutnya Syariat membagi munkarat atas 2 kategori yakni, 1 Haram, 2 Makruh. 
Karena ilmu Syari'at itu batasnya hanya sampai yang nyata-nyata saja, maka ilmu tersebut tidak dapat mengurusi tentang keadaan yang ada di dalam diri yakni qolbu (hati), seperti, "Tawaqal, Ikhlas, Ridho, Ihsan" dan yang demikian itu ilmunya ada tersendiri. Ikhwan wal Akhwat sekalian yang di rahmati Allah, pada garis besarnya, Syari’at mengurusi, yakni apa yang ada diluar diri kita, missal, pakaian kita terkena najis maka cukup dengan air bersih lagi suci sebagai alat mensucikannya, lantas jika hati ini penuh dengan penyakit, "iri, dengki, sombong, ego (keakuan), kikir dll" pakai apa alat pembersihnya! Apakah harus pakai air juga? 

Dalam hal ini penulis mengajak agar lebih konsentrasi lagi ke "Tingkatan Iman Ilmul Yakin", lihat artikel yang bertemakan ("Ketika Melihat Asap, Seketika Itu Pula Terbakar Api"), di situ di jelaskan bahwa Ketika si Amir sedang di rumah, tiba-tiba datang seorang temannya membawa kabar berita bahwa di balik bukit nan jauh di sana terdapat asap yang mengepul-ngepul, setelah ini di terima, si Amir meyakinkan dirinya menjumpai warga setempat, untuk menanyakan kepada mereka, apakah memang benar di balik bukit nan jauh di sana terdapat asap yang mengepul-ngepul ternyata benar kedaannya, apa yang di kabarkan oleh temannya tadi. Perihal ini di sebut “Tingkatan Iman Ilmul Yaqin”, si Amir dalam tingkat ini ketika ia beramal dan beribadah kepada Allah, hanya sampai batas menjalankan Perintah dan Meninggalkan Larangan" dengan Ilmu Pengetahuan dari “Al Qur’an dan Al Hadits”. Tingkatan "Iman Ilmul Yakin ini, masuk kedalam ilmu syari'at, tempat tilik atau makam "Syari'at" di posisi "Jirim (tubuh luar) dan Jisim (tubuh dalam yang memakai tubuh luar)" dan pelaksanaan amal ibadah Sholat, Syaum, Zakat dan Hajji, termasuk syari’at Allah SWT kepada amalan zikir lisannya adalah “ Laa Ilaaha Illaallaah”. Di dalam kalimah inilah yang nantinya menjadi  pegangan yang kuat, bagi seseorang Ustadz/Guru, Dosen, Masyarakat maupun Elemen-Elemen negeri ini, merupakan cerminan dari pada murid- muridnya, bagaimana keilmuannya, pengetahuannya, serta "Akhlaqul Qorimah"nya yang akan ditiru, oleh karena itu jika seorang staf pendidik bertanggung jawab, disiplin tinggi, professional, tentu akan memberikan nilai tersendiri bagi para murid atau santri tersebut. Disisi lain tidak semua orang bisa jadi staf pendidik, apalagi staf pendidik yang mengajarkan ilmu tentang "Akhlaqul Qorimah". Karena pada hakekatnya jiwa seorang murid-murid tersebut terpaut sangat dekat dengan seorang staf pendidik, terlebih seorang staf pendidik favoritnya.

Dalam pembentukan "Akhlaqul Qorimah" tidak bisa hanya dibebankan kepada staf pendidik saja, yang sangat terbatas bersama para murid-muridnya. Peran orang tua, masyarakat dan Pemerintah juga sangat dibutuhkan di dalam mengawasi gerak gerik ke seharian setiap anak. Bagaimanapun juga tidak akan ada murid jika tidak ada staf pendidik dan tidak ada anak "Berakhlaqul Qorimah" jika masih ada orang tua yang tidak mengajarkan kebenaran, kepercayaan, menyampaikan yang haq, kecerdesan, sedini mungkin, karena genarasi yang dibina dengan "Akhlaqul Qorimah" mencerminkan bangsa yang bermartabat  sehingga bangsa-bangsa lain segan dengan negara yang kuat dengan "Berakhlaq Mulia".

Demikianlah wejangan ini, ma’na di balik kalimat “Banyaknya Beramal Namun Hanya Mendapatkan Kesemuan Tiada Akhir”. Mohon ampun kepad Allah, mohon ma’af, bila teradapat kesalahan dan sedikitpun tidak ada maksud tertentu, hanya semata-mata menyampaikan haq Allah, agar kita dihadapan Al Haq, tidak saling tuding menuding satu di antara kita, atas ma’af yang diberikan, penulis ucapkan terima kasih, semoga bermanfa’at, hanya kepunyaan Allah lah segala puji-pujian teragung. InsyaAllah, kita lanjutkan artikel berikut dengan tema "Seseorang Meminta Tajalli Allah SWT, Akhirnya Kesombongan Yang Di Dapat" di karenakan saling terkait, kiranya  penulis berharap agar unggahan-unggahan artikel sebelumnya di fahami benar-benar agar supaya sebagai bahan acuan untuk melengkapi unggahan-unggahan artikel sekarang dan akan datang sehingga tidak kehilangan arah dan tujuan ,

إِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلا, وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم

Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim.Yaa .. Allah, hilangkanlah rasa ujub dalam diri kami sehingga kami tidak pernah terlepas dari tali Aqidah yang sangat kokoh,  Aamiin . . yaa Robbal 'Aalamiin, 
Billahi taufiq wal hidayah.                     
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 




Kata-Kata Arifbillah,

"Barangsiapa yang menghabiskan waktu berjam-jam
lamanya untuk mengumpulkan harta karena 
dia takutkan miskin, maka dialah sebenarnya 
orang yang miskin”. (Imam Al Ghazali)